Panti Asuhan Pintu Elok

Pagi tadi, saya dan jemaat Solafide mengunjungi panti asuhan Pintu Elok, Pamulang.  Saat tiba di sana, kami disambut dengan anak-anak panti asuhan yang telah menunggu kedatangan kami.
Pintu Elok dibangun oleh Pak Kurniawan pada 23 tahun yang lalu dengan bantuan dana yang diberikan oleh 6 gereja.  Saat ini, ada 68 anak yatim piatu yang diterima dan diasuh di panti asuhan dengan rentang umur dari 3 hari hingga 26 tahun.  Sebagian besar ditelantarkan oleh orangtuanya dan lainnya karena orangtua meninggal.  Tidak satupun anak menunjukkan wajah pilu dan mereka dengan teratur duduk di bangku aula.  Salah satu remaja jemaat Solafide memimpin acara kebaktian yang diikuti dengan hikmat oleh para anak yatim piatu.

Ibu Sarce, pengelola Pintu Elok, telah bersama rumah yatim piatu ini sejak tempat ini pertama kali dibangun saat ia masih gadis.  Ia sangat senang bermain dengan anak-anak sehingga ia memilih untuk berada di rumah yatim piatu ini.  Saat ia menikah, ia dan suami memutuskan untuk mendedikasikan hidup mereka mengasuh anak-anak yatim piatu di Pintu Elok.  Tahun ini adalah tahun ke 15, Ibu Sarce dan suami mengabdi untuk mengasuh “anak-anak” mereka.  Saya bertanya apa yang membuatnya bertahan selama itu di tempat yang sama sekali tidak menghasilkan apapun.  Ia berkata bahwa apa yang ia lakukan ini semua karena panggilan Tuhan.  “Ini adalah bentuk pelayanan saya untuk Tuhan,” ujarnya.

Pintu Elok beroperasi dengan biaya dari para donatur tetap namun saat ini mereka tidak menerima donasi apapun karena sudah tidak ada lagi yang memberikan.  Saya bingung dan bertanya kepada Ibu Sarce bagaimana mereka dapat bertahan tanpa ada bantuan biaya.  “Tuhan yang menyediakan.  Jika Tuhan memberikan makan untuk burung-burung di udara, tidak mungkin Ia menelantarkan kita,” katanya.  Sungguh iman yang luarbiasa.  Ia mengatakan bahwa semua yang mereka miliki di panti asuhan itu adalah pemberian banyak orang.  Selalu ada yang memberikan.

Dari 68 anak, 3 diantaranya adalah 1 bayi dan 2 batita.  Mereka mendapat susu formula pemberian donatur.  Anak bayi tersebut ditemukan saat berusia 3 hari dan diserahkan kepada Pintu Elok oleh orang-orang yang menemukannya.  Semua anak di panti asuhan tidak dapat diadopsi karena mereka tidak ingin anak-anak tersebut ditelantarkan.  Menurut Ibu Sarce, banyak kejadian dimana anak-anak dari panti asuhan diadopsi sebagai “pancingan” untuk mendapatkan anak.  Setelah anak lahir, anak yatim piatu tersebut ditelantarkan.  Pintu Elok tidak ingin hal itu terjadi sehingga mereka mengasuh semua anak hingga menyelesaikan kuliah mereka.  Setelah mereka bekerja, barulah mereka dapat tinggal di tempatnya masing-masing karena sudah memiliki penghasilan.

Saya terenyuh melihat mereka bernyanyi dengan angklung, keyboard, drum dan gitar.  Kenapa ada orang yang tega melakukan ini kepada anak-anak yang tidak berdosa?  Namun mereka tidak pernah menanyakan asal usul mereka ataupun memiliki perasaan dendam kepada orangtua mereka.  Ibu Sarce dan suaminya mengajarkan bahwa mereka adalah anak-anak pilihan Tuhan.  Mereka juga didorong untuk mencari saudara atau jika memungkinkan, orangtua mereka, setelah mereka memiliki pekerjaan sendiri.  Mereka telah memaafkan orangtua yang telah menelantarkan mereka.  Saya terharu.  Luarbiasa kehidupan anak-anak ini dan juga dedikasi ibu Sarce dan suaminya.

Mereka semua harus bangun pagi mulai jam 4.30 kemudian membereskan tempat tidur masing-masing, melaksanakan piket membersihkan kamar dan memasak, kemudian kebaktian dilanjutkan dengan makan pagi sebelum berangkat ke sekolah.  Semua anak di panti asuhan Pintu Elok mendapat kesempatan untuk mengejar ilmu.  Ibu Sarce memiliki sistem untuk mengasuh anak-anak ini.  Para remaja membantu adik-adik mereka yang masih kecil sehingga semua kegiatan dapat berlangsung dengan baik.  Saya berkesempatan untuk mengunjungi ruang tidur anak laki-laki dan perempuan yang dipisah, ruang menonton, ruang bermain, dan ruang belajar.  Semua dalam keadaan baik walaupun sangat sederhana.

Setelah berkeliling mengamati panti asuhan, saya melihat sebuah tulisan yang menyatakan “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku. Mazmur 27: 10″.  Hati saya tersayat.  Kami mengucapkan terimakasih kepada ibu Sarce dan suami yang dengan tulus mendedikasikan hidupnya untuk mengasuh anak-anak ini.

Semoga banyak orang yang tergerak hatinya untuk membantu panti asuhan Pintu Elok agar dapat menolong anak-anak yatim piatu ini menjadi orang-orang yang berguna untuk diri sendiri dan lingkungannya.  Dan terutama, menjadi pribadi-pribadi yang selalu bersyukur karena Tuhan selalu bersama dengan mereka walaupun mereka tidak memiliki ayah dan ibu.

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
The Esquire Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: