Tanpa Terimakasih

Siapa diantara pembaca yang pernah dimintai tolong untuk melakukan sesuatu dan kemudian ditinggal begitu saja sesudahnya?  Bagaimana perasaanmu?

Jika tidak ada sesuatu yang sangat mendesak yang harus dilakukan, saya hampir selalu mengiyakan seseorang yang meminta tolong untuk melakukan sesuatu asal tidak merugikan saya.  Beberapa kali saya diminta untuk berbicara pada sekelompok audiens.  Setelah mempersiapkan dan menjalankan diskusi, orang atau pihak yang meminta tolong sama sekali tidak memedulikan saya, seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu.  Seakan-akan ia tidak pernah memita tolong.  Yang saya harapkan sebenarnya adalah apresiasi untuk respon saya dari yang bersangkutan, setidaknya memberikan ucapan terimakasih.  Namun, tidak ada satu ucapan apapun yang disampaikan oleh yang bersangkutan.   Sungguh tak tak dapat dipercaya.  Ada rasa kecewa yang menyelinap dalam hati.  Namun di saat yang sama,  pengalaman ini menginspirasi saya.
Selain mengalami kekecewaan akibat tidak diapresiasi oleh pihak yang meminta tolong, sebenarnya saya sedang berlatih untuk mengasah kemampuan “public speaking”.   Saya mencoba mengingat kembali apa saja yang saya ucapkan, bagaimana saya mengucapkannya, apakah postur tubuh saya mendukung cara saya berbicara dan apakah alur pembicaraan saya dapat menjelaskan pesan yang ingin saya sampaikan.  Ternyata, ada banyak aspek penting yang harus saya pikirkan.  Public speaking bukan hanya sekedar berdiri di depan dan berbicara sesuka hati.  Bagaimana menyampaikan pesan sama pentingnya dengan pesan apa yang ingin disampaikan.  Ketika merenungkan hal ini, saya tersenyum sendiri.  Kekecewaan yang tadinya menyelimuti hati berubah menjadi sebuah sukacita karena proyek pribadi saya selanjutnya adalah membaca literatur mengenai public speaking dan mempelajari semua tekniknya.  Sebenarnya saya adalah anggota Toastmaster namun setelah sekian lama disibukkan dengan pernak pernik pekerjaan dan kemudian menjadi ibu rumah tangga akhirnya pertemuan Toastmasater terbelengkalai.  Saya tidak pernah lagi berlatih public speaking.  Jadi, mungkin ini adalah sebuah “wake up call” untuk saya untuk berlatih kembali.

Selain itu, saya juga berpikir untuk menyiapkan topik atau materi dalam bentuk presentasi powerpoint.  Dengan demikian, jika ada yang meminta tolong untuk membawa topik (walaupun tanpa terimakasih),  saya telah siap dengan materi pembicaraan.  Dengan menyiapkan topik dan melatihnya untuk tanggal presentasi yang tidak ditentukan merupakan tantangan sebenarnya.  Selama proses ini,  pribadi saya akan diuji dengan waktu.  Saya tersenyum karena saya sangat yakin bahwa kemampuan public speaking saya akan terus terasah tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun.

Jadi, saya perlu berterimakasih kepada semua pihak yang meminta tolong tanpa terimakasih.  Karena merekalah, saya mendapat pelajaran public speaking gratis seumur hidup.  I gain a lot from their empty response.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: