The Millenium Parenthood – Day 01 : Ora na azu nwa

Ora na azu nwa” – It takes a village to raise a child (Nigerian proverb)

Setiap berdiskusi dengan Mbak Rose, @r_pranoto, selalu ada ide-ide baru yang muncul.  Akhirnya, proyek menulis kedua kami lahir.  Awalnya kami mendiskusikan proyek pribadi beliau untuk membuat sebuah wadah bagi para ibu kaum tak mampu agar mereka dapat menjadi wanita tangguh yang dapat memberdayakan diri sendiri, mendidik anak-anaknya dengan baik serta memastikan kesehatan keluarga.  Mbak Rose menyebut kegiatan ini sebagai Parenting Club.  Kami menemukan banyak hal yang dapat diberikan kepada ibu-ibu ini yang kemudian kami susun dalam beberapa tema.  Tema-tema ini melahirkan banyak topik yang tidak mungkin dapat didiskusikan dalam satu pertemuan.  Akhirnya, terciptalah ide untuk mempermudah penyusunan silabus dari kegiatan ini dengan menuliskannya dalam bentuk artikel di blog yang dilakukan setiap hari.  Kami juga mempersiapkan Powerpoint presentation untuk setiap artikel agar dapat digunakan nanti pada saat berdiskusi dengan ibu-ibu tersebut. 

Karena usia anak-anak kami terpaut jauh, maka Mbak Rose akan menulis artikel yang berhubungan dengan kehidupan remaja sedangkan saya untuk bayi hingga balita.  Kami menamakan proyek menulis ini The Millenium Parenthood atau Orangtua Milenium karena ada banyak sekali tantangan yang dihadapi oleh para orangtua masa kini dalam mendidik anak sehingga orangtua perlu sekali membekali diri dengan menggali banyak sumber ilmu.  Salah satu contohnya adalah fokus anak dalam pendidikan.  Saat ini, anak-anak duduk di bangku sekolah untuk mengejar standar nilai bukan ilmunya.  Setiap hari, mereka dihadapkan kepada tekanan bahwa mereka harus mencapai nilai tertentu agar lulus kenaikan kelas.  Hal ini belum termasuk arahan dan desakan orangtua agar anak-anak mencapai peringkat tertinggi atau setidaknya 10 besar di kelas.  Yang terjadi adalah anak akan melakukan apa saja agar ia mencapai standar nilai yang telah ditentukan.  Ia adalah manusia yang dikendalikan oleh sebuah sistem tanpa menyadari bahwa ia memiliki potensi yang sangat besar dan dapat dimaksimalkan. 

Anak dihadapkan kepada norma tak tertulis bahwa sekolah setiap hari dengan banyak pekerjaan rumah, ujian dan tambahan pelajaran adalah sesuatu yang baik untuk masa depannya.  Memang ada benarnya, di lain pihak orangtua perlu menyadari bahwa nilai tidak akan menjamin kehidupan anak untuk mencapai sesuatu yang lebih baik di masa mendatang.  Faktor-faktor pendukung lainnya selain standar nilai seperti keteguhan hati, kegigihan, empati, kemampuan berbagi, welas asih, kemampuan membangun jejaring adalah kemampuan-kemampuan yang dapat membawanya kepada kesuksesan eksponensial. 

Anak perlu menyadari bahwa ia adalah seorang pribadi yang mampu melakukan hal-hal yang terbaik untuk dirinya bukan karena ia harus mengejar nilai namun karena ia sadar bahwa ia adalah makhluk Tuhan yang dikaruniai banyak potensi.  Berapa banyak anak kita yang menyadari hal ini?  Banyak sekali anak yang datang ke sekolah ditemani mbak yang membawa tas dan perlengkapan makan dan sekolahnya.  Pulang sekolah, si mbak juga yang membawa tasnya.  Tugasnya hanya belajar dan tidak melakukan yang lainnya.  Ia tidak diperlengkapi kemampuan untuk melakukan tugas-tugas pribadi yang akan membangun rasa tanggungjawab walaupun terlihat kecil seperti membawa tas sendiri.  Ia tidak terasah untuk menjadi pribadi yang berempati karena tugasnya adalah belajar, belajar dan belajar.  Sehingga, ketika di kelas anak teman yang tidak memiliki kemampuan yang setara dengannya, ia menjadi tidak sabar dan memojokkan teman tersebut.  Ia telah menjadi bully

Tidak jarang sekolah juga menjadi tempat penitipan anak.  Karena orangtua bekerja dalam rentang waktu yang panjang, maka anak dimasukkan ke sekolah dengan pelajaran-pelajaran tambahan lainnya agar ia memiliki sesuatu yang dilakukan sambil menunggu orangtuanya pulang.  Padahal, anak mulai beraktivitas sejak subuh hingga sore hari dan masih ditambah pula dengan pelajaran tambahan.

Pada awal tahun 2000, saya membaca buku yang sangat fenomenal yang ditulis oleh Hillary Clinton berjudul It Takes a Village: And Other Lessons Children Teach Us.  Buku ini menjelaskan bahwa jika Amerika ingin menjadi negara adidaya yang kuat dan tanpa kerapuhan maka semua orang, siapa saja, harus memiliki tanggungjawab untuk turut terlibat dalam membesarkan seorang anak.  Guru, tetangga, supir bis sekolah, office boy, kasir dan semuanya tidak terkecuali.  Saya sangat setuju dengan Hillary Clinton karena hal ini terjadi dengan saya saat saya balita.  Ibu bercerita bahwa saya diasuh oleh tetangga saya ketika ibu saya sedang bekerja.  Atau, seorang anggota jemaat di gereja saya yang dengan rela memberikan waktunya sepanjang sore untuk mengajarkan kemampuan kepramukaan kepada anak-anak remaja dan belum termasuk kelas-kelas pendalaman Alkitab yang ia lakukan tanpa absen setiap jam 7 hingga 8.30 pagi kecuali ia sakit.  Atau, seorang ibu yang memperingatkan dua anak laki-laki yang berlarian di rumah sakit seakan-akan tempat itu adalah tempat bermain.  Setiap orang memiliki rasa tanggungjawab untuk mendidik seorang anak.

Saya dan mbak Rose akhirnya memutuskan untuk menggunakan judul buku Hillary Clinton, yang lengkapnya adalah It takes a village to raise a child.  Setelah kami telusuri ternyata pepatah ini berasal dari Nigeria tepatnya suku Igbo.  Suku ini percaya bahwa seluruh desa bertanggungjawab untuk membesarkan seorang anak.  Kami juga berdua sepakat tentang hal ini. Betapa indahnya jika institusi pendidikan berpikir untuk meningkatkan kualitas penerimaan tim pengajar sehingga menghasilkan guru-guru dengan dedikasi yang tinggi dan kualitas yang sangat tinggi tanpa menjadi hamba standar nilai.

Mulia esok, saya akan menulis berbagai macam artikel yang berhubungan dengan bayi hingga balita dan serta peran orangtua, lingkungan dan sekolah dalam perkembangan mereka.  Anak bukanlah komoditas.  Anak bukanlah obyek untuk menyalurkan cita-cita yang terpendam di masa lalu.  Biarkan anak menjadi anak. Marilah saling bahu membahu menjadikannya sebagai manusia yang bermartabat, menghargai sesama, handal dan seorang yang ingin berbagi.

Dan yang terakhir, saya ingin menyatakan kembali bahwa kita hidup di jaman serba internet sehingga anak-anak baliat saat ini disebut generasi Z sebab mereka dapat beraktivitas dengan siapa saja dan dimana saja dengan sebuah laptop ataup telepon genggam. Mereka adalah anak-anak Millenium yang menjadikan kita sebagai Orangtua Milenium.  Saat ini, orangtua tidak dapat duduk diam dan menutup mata pada apa yang terjadi pada anak-anak di jaman ini.  Ada banyak hal yang perlu diketahui dan dipelajari oleh orangtua jaman ini.  Itulah sebabya kami menyebut proyek ini sebagai The Millenium Parenthood. Walaupun kelihatannya terlalu optimis untuk menghadapi keadaan saat namun energi positif akan membuat kita lebih bergarah untuk mempelajari apa yang terbaik buat anak-anak kita.

Maka, saya dan Mbak Rose mendedikasikan proyek menulis ini untuk semua orangtua, guru, anak dan siapa saja.yang berada di sekitar anak.  Semoga Tuhan yang Kuasa memberikan kekuatan kepada para orangtua khususnya agar menjadi orangtua yang menginspirasi anak-anaknya sehingga mereka akan terpanggil untuk melakukan banyak hal tanpa harus dibebani untuk mencapai standar nilai tertentu.

Mari bermain bersama!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: