30 Night Notes – Day 2

DISKUSI DI SELASA PAGI

Setiap hari Selasa, saya dan Ira memutuskan untuk berdiskusi apa saja di kantin sekolah.  Ira dan Lily telah duduk di salah satu meja bundar di kantin ketika saya datang.

Diskusi dimulai dengan catatan buku khotbah saya ketika kelas 6 SD dulu yang masih disimpan oleh ibu saya.  Buku itu berisi catatan-catatan khotbah setiap hari Sabtu di gereja yang ditandatangani oleh pengkhotbah.  Adalah sebuah kebanggaan yang luarbiasa untuk seorang remaja untuk mendapat sebuah tandatangan untuk hasil jerih payahnya walaupun tanpa keringat ataupun mendapat imbalan.  Kebanggaan itu lahir dari sebuah tekad untuk duduk tenang dan mendengar dengan seksama khotbah yang saat itu mungkin masih terlalu kompleks untuk dimengerti oleh anak-anak remaja.

Pengalaman Ira tentang menyimpan barang-barang jaman dulu berbeda.  Karena ayahnya bekerja di perusahaan perkebunan, keluarganya sering berpindah tempat sehingga mereka memiliki sebuah peti besar menyerupai peti harta karun para perompak, yang ukurannya sangat besar.  Peti besar ini berisi semua barang penting dan memiliki nilai sentimental.  Ira masih memiliki baju-baju di masa kecilnya, ia bahkan masih memakai baju hamil ibunya sebagai pakaian rumah.  Mereka tidak menyimpan buku-buku catatan karena dimakan rayap.

Lily malah masih dapat memakai baju pengantin ibunya.  Kami berkelakar, mengapa tidak mengabadikan baju-baju tersebut dalam foto agar ada dokumentasinya.  Setidaknya, ada koleksi foto-foto baju vintage.

Topik beralih mengenai sekolah.  Beberapa orang menganggap sekolah A menganut sistem “santai” karena tidak menerapkan tes dalam kurikulumnya atau hanya memberi pekerjaan rumah sekali dalam seminggu.  Bahkan ada orangtua yang kemudian mengkotakkan sekolah tersebut sebagai sekolah yang tidak kompetitif.  Argumennya, sekolah tersebut tidak mengasah kemampuan anak menjadi siswa kompetitif.  Menurut mereka, anak-anak yang bersekolah di sekolah A tidak mampu melanjutkan pendidikan di tempat lain terutama yang memberikan banyak pekerjaan rumah dan menerapkan banyak tes dalam kurikulumnya.  “Nggak bisa ngikutin!”, kata mereka.

Sekarang coba lihat sekiling dan perhatikan apa yang terjadi dengan anak-anak sekarang.  Pergi ke sekolah bersama dengan mbak.  Tas dibawa mbak dan baru ditenteng sesudah di depan pintu kelas.  Pulang sekolah, tas dibawa mbak.  Masuk ke mobil, langsung main PSP sebagai pelepas lelah seharian karena dalam 15 menit kemudian les matematika sudah menunggu dan 1,5 kemudian les Bahasa Inggris.  Pulang sudah jam 7 malam dan harus belajar hingga jam 11.  Lantas, apa yang dimaknai oleh anak.  Apakah anak diberi kesempatan untuk mengenal dirinya sendiri?  Tidak heran banyak anak lebih mementingkan kepentingannya sendiri, menjadi korbankonsumerisme dan terlibat dalam kegiatan bully.  Hidup tidak melulu mengenai nilai.  Ketika seseorang masuk dalam dunia pekerjaan, kinerjanya tidak dilihat dari berapa nilai yang ia raih ketika di bangku sekolah namun dengan cara kerja, sikap dan hasil kerja.

Anak-anak pada jaman ini seakan-akan kehilangan arah.  Kebanyakan mereka hidup dengan rutinitas layaknya robot.  Konsep yang mereka anut adalah keberhasilan hanya diraih jika mencapai target nilai.  Mereka tidak memahami konsep dasar dari apa yang mereka pelajari dan lakukan.  Contohnya, mereka diajarkan bahwa matematika adalah ilmu berhitung.  Ya benar, matematika memang adalah ilmu berhitung namun itu hanya sebagian kecil dari konsep matematika.  Konsep besarnya adalah matematika merupakan bahasa logika.  Matematika memungkinkan kita untuk memahami pola  di sekitar kita walaupun di dalam ketidakteraturan seperti halnya kemacetan lalu lintas.  Ketidakteraturan pun memiliki pola.  Konsep dasar ini yang tidak dipahami oleh kebanyakan anak karena guru yang mengajarkan mereka seperti itu di sekolah.  Guru juga memiliki tenggat sendiri karena pencapaian nilai murid menentukan kinerja mereka dan sekolah.  Sehingga sekolah bukan lagi merupakan institusi pendidikan yang murni namun menjadi ajang bisnis yang sangat makmur.

Ketidakseimbangan ini berdampak pada semua aspek termasuk perencanan keluarga.  Karena kurang mengenal diri sendiri, banyak orang muda yang memilih pasangan hidup karena alasan hanya ingin menikah tanpa memikirkan semua hal yang mengikutinya.  Seorang pria muda harus selalu menyenangkan hati istrinya karena sang istri bercita-cita tidak ingin hidup biasa-biasa lagi.  Ia ingin hidup dalam kemewahan.  Ketika anak mereka lahir,  masalah mulai timbul.  Istri tidak ingin lelah mengurus bayinya, sehingga urusan anak diserahkan sepenuhnya kepada babysitter.  Pria muda tersebut tidak senang dengan keputusan istrinya.  Ia marah dan memprotes tindakan istrinya.  Namun, semua sudah menjadi bubur.  Istrinya menegaskan bahwa ia menikah dengannya karena tidak ingin hidup susah.  Kalau punya uang untuk menyewa nanny, mengapa harus bersusah payah mengurusi anak?

Kami bertiga sepakat bahwa diskusi mengenai perencanaan keluarga seharusnya telah dilakukan sebelum menikah.  Bu Elly Risman, seorang psikolog anak dalam seminarnya menegaskan bahwa akan lebih baik jika anak-anak muda mengikuti seminar parenting agar memiliki gambaran apa saja yang dihadapi saat berkeluarga dan bagaimana mengatasinya.  Menikah bukanlah akhir dari segalanya malah sebaliknya.  Dan diskusi mengarah pada topik memilih pasangan hidup.  Adalah penting sekali untuk memilih pasangan yang membuat kita nyaman, seorang yang memiliki komitmen, dan Lily menyebutkan akan lebih baik jika satu iman sehingga rumahtangga hanya memiliki satu nakhoda.  Mengapa penting sekali?  Contoh yang paling sederhana.  Saat setelah melahirkan terutama pada sebulan pertama, bayi akan bangun setiap 2 jam untuk minum susu.  Ibu harus banyak memakan asupan yang bergizi dan minum air putih serta menjaga pikiran untuk tetap positif agar produksi ASI berjalan dengan baik.  Namun, pada kenyataannya tidaklah mudah.  Karena harus bangun setiap dua jam, ibu akan kurang tidur.  Kurang tidur akan membuat emosi ibu tidak menentu. Sehingga perlu strategi agar kondisi ibu tetap prima yaitu ASI diperah dan disimpan yang kemudian diberikan kepada bayi oleh sang ayah sehingga ibu dapat tidur setidaknya setiap 4 jam.  Hal ini membutuhkan kerjasama yang baik antara suami dan istri juga komitmen yang tinggi.  Sebulan pertama merupakan tes kesabaran dan kegigihan untuk pasangan suami istri.  Komunikasi antara keduanya harus tetap terbuka sehingga keduanya dapat saling melengkapi.  Bayangkan jika pasangan suami istri tidak nyaman satu dengan lainnya, bagaimana dapat menjalin komunikasi yang baik?  Pada akhirnya, anak akan menjadi korban.  Jika ibu stres, produksi ASI berkurang.  Sayang sekali jika ada harus meminum susu formula padahal sang ibu dapat menghasilkan ASI secara maksimal hanya karena komunikasi diantara keduanya tidak berjalan dengan baik.

Lily juga menyebutkan bahwa akan lebih baik apabila memiliki keyakinan yang sama dalam rumahtangga sehingga cara mendidik anak pun memiliki keseragaman.  Jika memang tidak dapat dihindari, sebaiknya ada kesepakatan antara kedua belah pihak terutama mengenai kepercayaan anak dan cara membesarkannya sehingga tidak ada kebingungan pada anak. Kami sepakat bahwa agama merupakan way of life.

Tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 11.30 siang.  Diskusi dibubarkan karena kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi di warung Riris.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: