[proyek menulis] The Millenium Parenthood – Day 05

“Ora na azu nwa” – It takes a village to raise a child (Nigerian proverb)

[TEMA: SOSIALISASI]

Mengapa Anak-Anak Perlu Bermain?

Sekitar dua dekade yang lalu, anak-anak masih memiliki jam belajar yang pendek.  Pukul 1 siang, sekolah telah selesai dan selebihnya dgunakan untuk bermain di halaman rumah bersama teman-teman.  Saya ingat sekali semua permainan yang saya gemari seperti trakdal, main benteng, engklek, batu tujuh, sumpit dan masih banyak lagi.  Waktu bermain dihabiskan setidaknya 2 jam sebelum jam 5 sore ketika semua anak harus pulang ke rumah untuk mandi, makan malam dan belajar.  Ketika itu, anak-anak masih menggunakan kreativitasnya seperti membuat mobil-mobilan dari pelepah pisang, pesawat telepon dari boks sepatu atau benteng-bentengan dari kardus bekas tempat televisi.  Alam pun masih perawan.  Anak-anak masih berenang di sungai kecil yang dalamnya hanya setinggi dada dan mengumpulkan banyak batu apung untuk dijadikan batu “jagoan” untuk bermain engklek. 

Saat ini, dua dekade kemudian, dengan teknologi yang sangat pesat perkembangannya dan alam yang telah banyak diubah menjadi pusat industri, telah mengubah peta tempat bermain anak kepada sesuatu yang bukan lagi alamiah.  Anak-anak diperkenalkan kepada banyak produk elektronik yang menyajikan banyak stimulasi melalui gambar-gambar dan warna-warna yang menarik sehingga membuat anak-anak tertarik dan akhirnya meninggalkan kreativitas alamiah yang untuk menciptakan sesuatu dari apa yang ada di lingkungan mereka.  Anak-anak sudah tidak lagi bermain bersama dengan teman-teman mereka dan lebih menikmati bermain dengan alat-alat elektronik di kamar mereka. 

Perlu diingat bahwa bermain adalah hak anak. Bermain sangat penting bagi anak-anak karena mereka mengeksplorasi dunia di sekelilingnya sehingga memperluas wawasan mereka tentang situasi dan peristiwa.  Bermain sangat penting untuk perkembangan perilaku, pribadi anak secara secara fisik, sosial, kognitif, emosional dan spiritual serta menjadi dasar ketrampilan seperti membaca, berhitung dan menulis.  Melalui bermain, anak mengembangkan keterampilan menguasai kemampuan:

1. Emosional

Saat bermain dengan anak-anak lainnya, terjadi interaksi yang menghasilkan kegembiraan maupun kekecewaan. Ia belajar untuk menghargai kegembiraannya setelah berusaha mencapai sesuatu, menangani kekecewaannya terhadap ekspetasi maupun perilaku teman bermainnya, dan mengasah ketekunannya untuk mendapatkan yang ia inginkan. 

2. Motorik

Bermain akan mengembangkan motorik kasar dan halus pada anak, melatih koordinasi tangan dan mata, serta mengembangkan respon otot dengan cepat.  Bermain juga melatih anak untuk menilai situasi lapangan.

3. Kognitif

Dengan bermain, anak belajar memahami logika, melatih berkonsentrasi dan menahan diri sebelum bertindak serta meningkatkan pemahamannya terhadap kosakata. Bermain melatih anak untuk belajar bahasa.

Selain 3 kemampuan di atas, bermain juga menguatkan rasa percaya diri anak karena saat bermain, anak belajar untuk menghadapi kemungkinan dan ketidakmungkinan.  Saat bermain, anak menemukan kreativitasnya sendiri karena anak bebas bereksplorasi tanpa tuntutan siapapun. Semua pancaindera digunakan ketika bermain sehingga anak mendengar, melihat, dan merasakan semua kegiatan yang mereka lakukan.  Bermain melatih anak agar dapat berinteraksi dengan teman sebayanya maupun orang dewasa, belajar dengan trial and error, berbagi dengan orang lain, belajar untuk berkomunikasi dan mengemukakan pendapat dan mengatasi rasa takutnya.

Direktur Suryani Institute of Mental Health LK Suryani di Jakarta menyatakan idealnya sampai umur 10 tahun anak-anak tidak dibebani oleh PR  agar mereka dapat menuntaskan masa bermain dan mendengarkan cerita baik dari orang tuanya dan gurunya di sekolah.  Dengan beban pendidikan saat ini, banyak anak mengalami gangguan jiwa karena tidak siap menerima beban mental tersebut. 

Peran orangtua sangatlah penting dalam bermain.  Orangtua perlu terlibat saat bermain dengan anak namun bukan menjadi pihak yang mengatur permainan.  Biarkan anak menentukan jalannya permainan untuk mengembangkan kreativitas dan jiwa kepemimpinannya, meningkatkan kualitas komunikasi dan kedekatan orangtua dan anak.

Biarkan anak menjadi dirinya sendiri dengan bermain agar ia dapat menjelajah ide-idenya dan menjadikan semua menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk dirinya dan orang lain.

Presentasi artikel ini dapat diunduh di sini: http://goo.gl/8ZPeM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: