[proyek menulis] The Millenium Parenthood – Day 06

“Ora na azu nwa” – It takes a village to raise a child (Nigerian proverb)

[TEMA: SOSIALISASI]

Sopan Santun

Masih segar dalam ingatan saya ketika seorang tamu datang ke rumah kami. Ibu langsung menyuruh kami untuk menjabat tangan sang tamu dan menjawab pertanyaannya dengan lengkap, seperti “iya, om” atau “iya, tante”. Kelengkapan yang saya maksud di sini adalah menambahkan nama panggilan kepada lawan bicara sesudah menyatakan sesuatu. Ini adalah salah satu pelajaran sopan santun yang diajarkan orangtua saya sejak kecil. Dan setiap kali saya terlupa atau tepatnya malas mengatakannya (karena memang saat itu semacam sebuah kewajiban untuk melakukannya), maka orangtua saya akan menambahkan nama panggilan tersebut agar saya mengulang ucapan saya seperti yang mereka inginkan.

Suatu kali, kami sedang menyantap makan pagi di sebuah restoran tempat kami menginap. Tiba-tiba, ada seorang bapak separuh baya langsung mengambil koran dari tempat duduk suami saya tanpa mengucapkan sepatah katapun dan kemudian berjalan menuju ke tempat duduknya. Kontan, saya menegur dia dan berkata bahwa ia mengambil sesuatu dari tempat duduk di meja kami. Dengan wajah yang agak menantang ia berkata bahwa ia meletakkan koran tersebut tadi pagi di salah satu kursi tempat kami duduk. Ia tidak mengucapkan maaf malah bertanya kembali apakah koran tersebut kami perlukan. Seakan-akan menyatakan bahwa apa yang ia baru saja lakukan adalah hal yang sama sekali tidak salah.

Kemudian, di waktu yang berbeda, kami dan seorang teman menikmati hidangan khas Sulawesi Utara di kawasan Kelapa Gading. Saat itu hujan sedang turun dengan derasnya. Setelah kami puas menikmati hidangan yang lezat, kami bergegas keluar saat seorang ibu dan anaknya yang sedang berdiri tepat di depan restoran tersebut memegang payung yang basah oleh hujan yang sangat deras. Sang ibu kemudian masuk ke dalam restoran dan menyuruh anaknya menutut payung. Karena ukuran payung yang lumayan besar, anak itu terhuyung ke kiri dan menabrak teman kami hingga pakaiannya basah. Anak itu menatap teman saya dengan air muka yang datar dan berkata, “Eh!”, kemudian cepat-cepat menggulung payungnya dan bergegas masuk ke dalam restoran. Tidak ada pernyataan maaf atau apapun yang diucapkannya.

Masih banyak pengalaman tentang sopan santun yang dapat saya ceritakan. Kedua cerita di atas menggambarkan bahwa sopan santun merupakan salah satu dari nilai hidup yang sangat penting. Bapak setengah baya tersebut memberikan contoh yang tidak pantas dalam bersopan santun di hadapan anak-anak. Dan anak yang tidak mengucapkan maaf tersebut mungkin saja tidak terbiasa melakukannya.

Orangtua merupakan panutan awal anak dalam bersopan santun. Lalu kapan orangtua dapat mengajarkan anak bersopan santun? Sedini mungkin. Sopan santun adalah yang dapat dipelajari. Yang perlu dilakukan orangtua adalah mengajarkan mengenai cara bersopan santun, terutama mengenai tata krama atau aturan. Anak dapat dilatih dari hal-hal yang sangat sederhana misalnya, mengucapkan terimakasih, maaf, permisi, atau tolong. Kepada orang yang lebih tua memanggil kakak, abang, ibu, bapak, tante, om, kakek atau nenek. Anak juga diberi contoh bagaimana menggunakan tata krama ini dalam bersopan santun. Misalnya ia ingin tahu nama bayi yang sedang digendong oleh seorang ibu. Orangtua dapat mengajarkan anak untuk bertanya,”Permisi tante, nama adik bayi siapa ya?”

Berikan penjelasan kepada anak mengenai perbedaan sikap sopan dan tidak sopan sehingga ia tahu bagaimana ia berperilaku. Tentunya, sikap sopan santun bukanlah pekerjaan semalam saja, perlu proses. Ketika anak bersikap sopan, pujilah sikapnya sehingga ia termotivasi untuk bersikap yang sama untuk selanjutnya. Jika anak bersikap tidak sopan, ingatkan segera bahwa sikap tersebut tidaklah pantas. Bermain peran akan membantu anak untuk berperilaku sopan misalnya orangtua berperan menjadi tamu sehingga ia lebih memahami sikap apa yang diharapkan darinya dengan cara yang menyenangkan.

Agar anak terus termotivasi untuk bersikap sopan, maka orangtua perlu menjadi teladan. Dengan latihan yang terus menerus maka sopan santun akan menjadi bagian hidup anak yang tak terpisahkan. Hal ini akan membantunya untuk bersosialisasi dengan baik karena ia memiliki kesadaran terhadap apa yang ia lakukan.

Presentasi untuk artikel ini dapat diunduh di sini: http://goo.gl/aJR9q

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: